Sepengetahuan saya tentang : Ejaan Madura Yang Benar

May 31, 2011 at 10:48 pm Leave a comment

a na ca ra kaDulu waktu SD hingga SMP saya mendapatkan pelajaran “Basa Madura“, alangkah susahnya, maklum karena sejak kecil saya menggunakan bahasa Indonesia dalam keseharian, rasanya jika waktu pelajaran basa madura lama sekali, padahal waktunya per minggu kalo tidak salah hanya satu kali jam pelajaran (1×50 menit), tapi mau bagaimana lagi, apa yang terjadi ya terjadilah, ulangan bahasa daerah saya mendapatkan nilai 2 ditulis besar lagi, tapi dengan begitu saya coba meski lambat laun tetap susah juga, dan sekarang, sayang banyak sekali ejaan madura yang penulisannya mulai berubah, meski maksudnya tetap, apa memang demikian?

Ejaan Madura pada dasarnya sama dengan ejaan bahasa-bahasa tradisional lainnya, akan tetapi ada beberapa yang tidak populer akan sulit untuk diucapkan, bahkan tanda baca, vokal dan tekanan kata sangat mempengaruhi arti dari kata/ kalimat tersebut, contoh “embu’ meos ka pasar” (ibu pergi ke pasar) akan tetapi jika penulisannya “embuk meos ka pasar” (kakak pergi ke pasar) ini menandatakan bentuk tulisan mempengaruhi arti, padahal yang membedakannya adalah tanda ” ‘ ” dan “k”.

kemudian banyak sekali saya lihat baik di media lokal ataupun penulisan-penulisan yang kurang benar, meski maksudnya bisa dimengerti oleh si pembaca yang akhirnya terjadi salah kaprah, contoh :

“Padha Baras” (benar) sedangkan yang salah “Padhe Beres”

“Aguna”(benar) sedangkan yang salah “Agunah”

“Alajar Ka Madura” (benar) sedangkan yang salah “Alajer Ka Madure” dan sebagainya, jadi kadang-kadang sipenulis mengepaskan dengan ejaan bahasa Indonesia yang jika di gunakan dalam bahasa Madura kurang benar

Berdasarkan “Ejaan Bahasa Madura Tepat Ucap”(EMTU) yang merujuk pada sebuah makalah yang ditulis oleh Muhammad Irsyad di Bangkalan pada tahun 1988 yaitu, “Melacak Ejaan Bahasa Madura Sesuai Dengan Lisan Ibu”. Ejaan ini kurang lebih sama dengan Ejaan Bahasa Madura Yang Disempurnakan tahun 2004, yang dihasilkan oleh Balai Bahasa Surabaya. Perbedaannya, pada EMTU untuk konsonan /d/dh/t/ yang bertanda titik dibawah huruf, pada ejaan EYD 2004 menjadi tanpa tanda titik, seperti :dada,dhajung,bhate (=dada,dayung,untung).
Para ahli bahasa dan para peneliti bahasa Madura mengambil suatu kesimpulan yang berbeda, antara lain mengatakan bahasa Madura termasuk dalam bahasa Melayu-Polynesia.
Menurut Salzner dalam bukunya Aprachenatlas des Indopazifischen Raumes (Wiesbaden,1960), bahasa Madura serumpun dengan bahasa-bahasa Austronesia , yang termasuk pula bahasa Madagaskar, Formosa,Philipina,Jawa,Nusa Tenggara, Maluku,Kalimantan,Sulawesi,Sunda dan bahasa Melayu di Malaka.
Penutur bahasa Madura merupakan yang terbanyak keempat dari 726 bahasa daerah di Indonesia setelah bahasa Indonesia, Jawa dan Sunda.

Bahasa Madura memiliki beberapa ciri atau keunikan tertentu yang tidak ada pada bahasa-bahasa daerah lainnya termasuk bahasa Indonesia sendiri. Sungguh sangat disayangkan sebagian ahli bahasa Madura maupun orang Madura sendiri tidak pernah mempermasalahkannya.Salah satu keunikannya adanya fonem-fonem Madura yang beraspirat atau pengucapan dengan dihembuskan seperti:bh,dh,gh, dan jh. Dalam hal ini mengapa keunikan bahasa Madura ini justru dihilangkan dalam Ejaan Bahasa Madura Yang Disempurnakan ? Padahal fonem-fonem ini bisa dijadikan sebagai pembeda makna.
Sebagai suatu bahasa, bahasa Madura mempunyai cirri-ciri khas baik dalam bidang fonologi (bunyi bahasa), morfologi (bentuk), maupun sintaksisnya (tata/susunan kata atau kalimat).
Keunikan bahasa Madura anatara lain :
1.-Tidak mengenal kata ganti orang ketiga;
2.-Mempunyai fonem-fonem beraspirat dan tanaspirat
Tanaspirat : baba (=bawah) Aspirat : bhabang (=bawang)
Fonem beraspirat disebut konsonan berra’ antep., sedangkan yang tanaspirat disebut berra’ alos atau ambar gherrungan.
Hanya pada bahasa Madura saja yang mempunyai fonem beraspirat.
3.-Mempunyai fungsi morfem “Tang” atau “Sang”
Bahasa Madura “asli” yang belum terpengaruh bahasa lain,sebagai penanda milik (possessive pronoun) orang pertama dalam tingkat bahasa umum “enja’-iya”, dipakai istilah “tang” atau “sang”.
Contoh: tang buku (=buku saya) bukan : bukuna sengko’.
4.- Mempunyai fungsi morfem (–a).
Untuk menyatakan kata kerja bentuk future “akan”, menggunakan sufiks (–a)
Contoh: Sengko’ abinea (=saya akan beristri); Sengko’ burua (=saya akan lari)
5.-Mempunyai fungsi prefiks (e–).
Kalimat pasif bahasa Madura mudah diketahui dengan dipakainya prefiks (e-) pada kata kerjanya, baik pelakunya orang pertama, kedua atupun ketiga.
Contoh: Areya se ekaterroe bi’ sengko’ (= Ini yang diinginkan saya).

Ternyata tidak ada yang berubah, jadi selama ini ejaan yang saya lihat di media ataupun saat teman-teman menulis adalah bahasa pergaulan yang kadang tidak mengikuti penulisan yang benar, matorsakalangkong taretan ga-moga tolesan paneka bisa aguna.(egrp)

Sumber: http://id.shvoong.com/books/dictionary/1986712-kamus-lengkap-bahasa-madura-indonesia/#ixzz1NwXsyV6p
                : http://dianrakyat.co.id
                : Pengalaman di Sekolah
                : http://ldiibangkalan.com

Entry filed under: Padha Baras. Tags: , , , , , .

MENGANTISIPASI PERILAKU ANAK TERHADAP PENGARUH NEGATIF Butir-butir Pancasila Sebagai Pedoman dan Pengamalan Berwarganegara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


DPD LDII BANGKALAN


%d bloggers like this: