Cerita Nabi Musa dan Nabi Hidir

May 10, 2011 at 10:46 pm Leave a comment

60.  Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada muridnya[885]: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau Aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.

Firman Allah SWT diatas berisikan sebagian dari ucapan hamba Allah,Musa as.dalam perjalanannya untuk menuntut ilmu kepada seseorang yang oleh allah dikatakan lebih pintar dari pada Musa.as

Disuatu kesempatan Nabi Musa as berdiri dengan berkhotbah dihadapan para pengikutnya yakni bani isroil seperti halnya nabi-nabi yang lain Musapun senangtiasa meramut ummmatnya dengan memberikan nasehat menyirami Qolbu mereka dengan hikmah dan kasih saying.

Selepas berkhotbah figur tertinggi dikalangan bani isroil ini mendapatkan suatu pertanyaaan drai ummatnya”Wahai Musa ! Siapakah manusia yang paling pintar ?”Demikian isi pertanyaan.soal ini sebetulnya  juga merupakan ujian guna mengetahui kwalitas Musa sebagai nabi.Musa yang dikenal memiliki karakter keras secara tegas dan percaya diri menjawab “Akulah manusia yang paling pintar”Nabi kebanggaan golongan yahudi ini tidak merasa bahwa ucapannya tersebut telah mencela dan meremehkan Allah.dia lupa kesempurnaan hanyalah miliknya Penguasa alam raya beserta isinya.

Jawaban Musa tadi jelas menggambarkan sisi kelemahan juga rasa percaya diri yang kelewat batas.lalu Allah SWT menegur Musa secara bijaksana dengan memberikan wahyu “Wahai Musa ! sesungguhnya aku (Allah) memiliki hamba yang lebih pintar dari pada dirimu dia berada dipertemuan 2 lautan (Lautan Romawi dan lauta Persia )

Merasa kalu ternyata ada manusia yang lebih pintar dari dirinya.Rasa penasaran Musa begitu besar terhadap hamba yang telah Allah firmankan padanya ingin sekali bertemu sosok tersebut ,Musa lalu bertanya “wahai robb..!Bagaimanakan cara agar dapat bertemu dengannya?”lakukanlah perjalanan dan bawa bersamamu seekor ikan yang diletakkan didalam sebuah wadah,apabila dalam perjalanan kamu kehilangan ikan itu maka niscaya disitulah kamu akan bertemu dengan hamba ku tersebut”Demikian penjelasan dari Allah.

Musapun segera mengikuti arahan Allah mempersipkan bekal perjalanan termasuk seekor ikan yand ditempatkan pada sebuah wadah.

Selanjutnya Musa yang kala itu ditemani seorang pemuda Bani Israil (Yusak Bin Nun) memulai perjalanan menyusuri jalan mengukuti arah dari bisikan hati.

Dalam perjalanan mereka bertemu sebuah batu besar yang memutuskan untuk melepas penat,merekapun duduk dengan menyandarkan kepala mereka pada batu,mata keduanya terpejam,terlelap dalam tidur.

Disini Allah sedikit menampakkan kekuasaanya ikan yang berada dalam wadah terlihat bergerak-gerak lalu keluar dan melompat masuk kedalam lautan yang ada disekitar situ.Saat ikan itu masuk kedalam laut,air laut yang dilewati oleh sang ikan tidak menyatu kembali menyisakan sebuah lubang.

Sesungguhnya keajaiban atas ikan tersebut diketahui oleh si pemuda.Namun karena Musa masih tertidur maka peristiwa tadi belum diceritakan.Dia menunggu hingga sang nabi terbangun dari tidurnya.

Akhirnya Musapun terjaga,berdiri akan meneruskan perjalanan mencari tempat yang dituju,sementara itu Yusa’ Bin Nun terlupakan untuk menceritakan keajaiban ikan yang telah dia saksikan,mereka terus berjalan menghabiskan sisa hari hingga waktu malam datang,keduanya terus melangkahkan kaki dan belum ada tanda-tanda akan menemukan apa yang menjadi misi mereka.

Keesokan harinya Musa berkata pada si pemuda yang menyertainya “Wahai Yusya’ bawa kemari ikannya,perjalan kita begitu panjang dan melelahkan sebaiknya kita istirahat sejenak untuk mengisi perut.Musa baru merasakan kepayahan setelah melewati tempat yang sebetulnya tempat itulah yang mereka berdua cari.Yusya’pun lalu berkata “apakah kamu masih ingat ketika kita berhenti sejenak pada sebuah batu besar?ketika engkau sedang tertidur ada keanehan yang aku saksikan ,aku melihat pada ikan yang kita bawa bergerak keluar dari wadahnya dan melompat masuk kedalam lautan serta meninggalkan sebuah lubang didalam air…Sungguh mengherankan.aku lupa menceritakan pada engkau tentang kejadian itu dan niscaya setanlah yang membuat aku lupa sang pemuda mengahiri ceritanya dengan ekpresi penyesalan diwajah musapun merasa terheran-heran mendengarnya.

Mendengar penuturan si pemuda musa lantas berkata ketahuilah bahwasanya itulah yang aku harapkan tempat itulah yang menjadi tujuan dari perjalanan ini.Segera musa mengajak Yusya’ untuk kembali ketempat tersebut.menempuh lagi jalan-jalan yang telah mereka lewati sambil bercerita-cerita mereka berjalan dengan dengan penuh ketelitian hingga merekapun tiba pada batu besar dimana ikan mereka hilang.

Tak jauh dari situ Musa melihat sesosok pria yang berselimut menutupi seluruh tubuhnya dengan pakaian.Musa mendatanginya dan mengucapkan salam.laki-laki yang bernama “Khadir” itupun menjawab salam musa dengan pertanyaan”Bagaimana bentuk ucapan salam didaerah kamu ? musa tidak menjawab,tapi malah memperkenalkan diri.Aku adalah musa ! Musanya bani Israil ?Tanyak Khadir kembali..ya!musa lebih menegaskan”Tujuan aku datang kemari untuk menimba ilmu darimu”ucap musa lebih lanjut.Khadir lalu berucap wahai musa engkau tidak akan bisa sabar jika mengikutiku”ketahuilah bahwa aku telah memperoleh ilmu dari Allah yang mana ilmu itu tidak engkau ketahui,begitupun dirimu engkau mendapatkan ilmu dari Allah sementara akupun tidak tahu ilmu apa itu.Khadir sedikit memberi peringatan yang berisikan nasehat pada Musa.Musa bersikeras pada pendiriannya untuk menuntut ilmu pada Khadir ,Musa pun berkata “wahai Khadir ! percayalah engakau akan menjumpai bahwa aku  adalah  orang yang sabar ! dan tidak akan menentangmu.atas izin Allah tentunya ! jika engkau benar-benar ingin ikut denganku maka syaratnya engkau tidak boleh bertanya tentang sesuatupun yang aku lakukan nanti,biar aku sendiri yang akan menjelaskan semuanya padamu”kata khadir.

Musa menyetujuinya dan mereka berdua mulai berjalan menelusuri pinggiran pantai.kala itu leawat sebuah perahu,mereka berbincang-bincang sejenak dengan pemilik perahu.Mereka mohon agar dapat menumpang  di perahu kenal akan Khadir,sehingga mereka diizinkan naik tanpa dipungut biaya.

Belum berselang lama ,Musa sudah dikejutkan dengan tingkah Khodir diatas perahu,entah alasan apa yang menolong Khodir,Musa sendiri tak tahu tiba-tiba saja Khodir menjebol papan perahu dengan kapak.Musa sontak kaget melihat semua itu dan berkata”wahai Khodir! Pemilik perahu telah memuat kita-kita berdua tanpa harus bayar,tapi engkau telah melakukan sebuah kemungkaran.

Dengan penuh ketenagan Khodir menjawab’bukankan sudah kukatakan bahwa engkau tidak akan sabar bila mengikutiku ? Musa tertegun, tersadar atas ucapan Khadir,dia lalu berkata “tolonglah kamu jangan mempermasalhkan apayang aku lupakan, dan tidak engakau persulit lagi …”pinta musa dengan memohon kesalahan musa tadi,benar-benar karena dia lupa akan syarat telah diajukan.keadaanpun kembali damai.

Dalam perjalanan ada seekor burung pipit yang hinggap ditepi perahu,burung tersebut mematuk air laut dengan sekali patukan lalu terbang meninggalkan perahu,melihat hal itu Khadir berkata pada Musa”gambaran ilmu yang kumiliki juga ilmu engaku.Jika dibandingkan dengan ilmunya Allah.Seumpama perbuatan burung tadi ilmu kita hanya seperti air laut yang ada diaruh burung tadi ilmi kta hanya seperti air laut yang ada diparuh burung itu.sedangkan ilmunya Allah semisal air laut sama sekali tidak berkurang sekalipun kita telah memperolehnya.

Sesampainya didarat mereka keluar dari perahu kembali berjalan di pesisir pantai.saat itu Khodir melihat seorang anak kecil yang asik bermain dengan teman-temanya anak yang berwajah ganteng namun dia orang kafir,Khodir lalu menghampiri si anak,diraihnya kemudian ditudurkannya selanjutnya Khadir mengambil sebilah pisau dan langsung membuat Musa tidak dapat menahan diri dengan wajah penuh keheranan dia menegur Khodir “Mengapa kamu berbuat sepert itu,membunuh anak yang begitu suci tanpa alasan yang jelas,lagi pula anak itu belum pernah berbuat pelanggaran !.Khodir masih dengan ketenagan menjawab”sudah aku katakana egkau Musa tidak mungkin sabar jiak bersamaku!.yang kedua ini merupakan kehilafan Musa yang berat,untuk kedua kalinya dia kembali lupa dengan syarat Khodir tdai pemimpin yahudi inipun kembali memohon”jika aku bertanya lagi padamu setelah kejadiaan ini  maka enkau sudah memiliki alasan yang kuat untuk meninggalkan aku.Musa memberi jaminan pada Khodir.Khodir mengabulkan keinginan Musa.

Mereka melanjutkan perjalanan doa memasuki sebuah desa (desa Inthoqiyah/aikah) mereka lantas meminta makanan pada penduduk desa,namun para penduduk desa menolak untuk menjamu 2 hamba allah itu.Mereka lalu melihat ada tembok pagar dengan posisi miring akan roboh ruoanya Khodirpun bergerak untuk mendirikan kembali cukup mengusapnya dengan tangan.dia mampu mengembalikan tembok itu ddengan posisi tegak menyaksikannya,membuat Musa berkata “Tadi kita datang pada mereka untuk meminta makanan,tapi mereka menolaknya sekarang egkau telah membantu mereka dengan membetulkan letak tebok ini alangkah baiknya ,engkau meminta upah pada mereka.Musa memberi saran.Musa tidak menyadari kalu ucapannya ini adalah suatu kesalahan yang menjadi pemisah dia denga Khodir “wahai Nabinya Allah !Inilah saatnya kita berpisah sebab ternyata engkau benar-benar tidak bisa sabar atas pa yang telah aku perbuat”kata Khodir pada Musa.Musa Cuma bisa diam seribu bahasa.

Sebelum berpisah Khodir memberikan alasan-alasan terhadap semua yang Musa saksikan.”wahai Musa Khodir memulai penjelasannya “aku tadi sengaja merusak perahu yang kita tumpangi,sebab seberang lautan itu ada seorang raja yang suka merampas setiap perahu yang bagus,dengan terlebih dahulu menenggelamkan pemiliknya dengan merusaknya maka perahu itu terlihat jelek sehingga tidak dirampas oleh sang raja.nanti sesampainya didarat pemilik perahu dapat memperbaiki kembali bagian yang rusak.Adapun anak kecil yang telah aku bunuh anak itu adalah orang kafir sementar kdua orang tuanya beriman,aku kawatir kalu anak itu beranjak dewasa dia akan memaksa orang tuanya untuk menjadi orang kafir dan aku berharap Allah mengganti anak itu dengan anak yang beriman bisa menyayangi orang tuanya.Sedangkan tembok ini aku sengaja dirikan lagi karena dibawahnya terdapat lempengan-lempengan emas yang merupakan milik 2 anak yatim yang hidup didesa ini.Kedua orang tua mereka semasa hidupnya adalah orang yang beriman.Allah berkehendak,ketika 2 anak itu telah dewasa mereka bisa mengeluarkan emas-emas tersebut.dan itu merupakan kasih saying dari tuhanmu”Ketahuilah wahai Musa ! Khodir meneruskan ucapanya.”apa yang aku lakukan sepanjang perjalanan kita.bukan atas kehendakku,tapi kehendak Allah dan inilah makna dari ucapanku.bahwa engkau tidak akan bisa sabar bila bersamaku “Khodir mengakhiri ucapannya dan meninggalkan Musa seorang diri.

Sumber :Shohih Bhukhori : Kitabul tafsir Qur’an

:Al-Qur’an : Surat al-Kahfi : 77-82

Entry filed under: Cerita. Tags: , , .

Pendidikan Pra Nikah Desain Suramadu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


DPD LDII BANGKALAN


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: